Saturday, 9 March 2013

Resensi Novel: Ayahku Bukan Pembohong


Judul Buku       : Ayahku (Bukan) Pembohong
Penulis               : Tere-Liye
Penerbit            : PT Gramedia Pustaka Utama
Ini adalah ketiga kalinya gw membaca novel karangan ‘Darwis’ Tere-Liye setelah sebelumnya gw dibuat menangis bombay oleh novel Hafalan Shalat Delisa (yang novelnya telah diangkat ke layar lebar) dan Bidadari-Bidadari Surga. Novel Tere-Liye ketiga yang baru saja gw tamatin berjudul Ayahku (Bukan) Pembohong.
Berbeda dengan dua novelnya yang telah gw baca sebelumnya, novel Ayahku (Bukan) Pembohong tidak bernafaskan Islami namun masih menyampaikan pesan-pesan moral dan kearifan (begitu kata A. Fuadi, penulis Negeri 5 Menara, dalam memberikan testimonial di buku ini) yang sangat dalam dan dapat kita petik sebagai pembelajaran kehidupan.
Novel Ayahku (Bukan) Pembohong menceritakan tentang Dam, seorang anak yang dibesarkan oleh Ayahnya dengan dongeng atau lebih tepatnya pengalaman hidup sang Ayah. Dam mulai tidak mempercayai dan membenci semua cerita Ayahnya saat Ibu yang dikasihinya meninggal dunia karena sakit. Dam sudah tidak percaya lagi bahwa Ayahnya merupakan teman dekat El Capitano El Prince (pemain sepak bola yang merupakan idola Dam sejak kecil), pernah memakan Apel Emas di Lembah Bukhara, pernah menaiki layang-layang raksasa bersama Kepala Suku Penguasa Angin, menjadi anak angkat si Raja Tidur, dan sederet dongeng lainnya. Padahal Dam sadar secara tidak langsung dongeng-dongeng Ayahnya telah mengubah karakter dirinya menjadi seorang yang memiliki baik budi, kuat, tangguh, dan berani. Bahkan kesuksesannya menjadi seorang arsitektur tidak terlepas dari peran Ayahnya yang selalu menceritakan kisah-kisah hebat.

Membaca novel Ayahku (Bukan) Pembohong mengingatkan gw dengan cerita Harry Potter yang bersekolah asrama di sekolah sihir Hoghwart. Dam selepas SMP disekolahkan Ayahnya di Akademi Gajah, sebuah sekolah asrama yang mata pelajarannya boleh dipilih siswa sesuai keinginanannya. Dari gedung asrama Akademi Gajah yang bangunannya amat berseni dan bersejarah mengingatkan gw dengan Kastil Hoghwart. Tak hanya itu untuk menuju Akademi Gajah, Dam mesti menaiki kereta yang lagi-lagi mengingatkan gw dengan sekolah sihir Hoghwart. Untung saja Dam tidak mesti menembus peron 9/10 (atau 9 ½ yaa?? Lupaa …)  jika ingin masuk ke stasiunnya, hee ..
Pesan yang ingin disampaikan dalam novel ini sedikit sama dengan novel Bidadari-Bidadari Surga: Bagaimana cara mendidik anak agar menjadi seorang yang cerdas, tumbuh dengan karakter kuat dan berakhlak baik, yaitu dengan bercerita. ‘Darwis’ Tere-Liye ingin memberitahukan kepada kita bahwa tidak ada anak-anak di dunia yang instan tumbuh seketika menjadi baik. Masa kanak-kanak adalah masa ‘peniru’. Mereka memperhatikan, menilai, lantas mengambil kesimpulan. Lingkungan, keluarga, dan sekitar akan membentuk watak mereka. Celakalah, kalau proses ‘meniru’ itu keliru, contoh yang keliru, teladan yang salah.
Dalam proses bercerita kepada sang anak mestilah dilengkapi dengan keteladanan, kerja keras, dan disiplin. Tidak dulu, tidak sekarang masa kanak-kanak selalu memberikan respon yang sama atas mekanisme ini. Membuat imajinasi mereka terbang, dan tanpa mereka sadari, ada pemahaman arti berbagi, berbuat baik, dan selalu bersyukur yang bisa diselipkan (*Dikutip dari novel Bidadari-Bidadari Surga).
“Cerita-cerita Ayah adalah cara ia mendidikku agar tumbuh menjadi anak yang baik, memiliki pemahaman hidup yang berbeda.” Begitulah kata Dam.
Kelemahan dari novel ini adalah jalan ceritanya yang mudah ditebak dan konflik antar tokoh yang menurut gw kurang kuat. Tak hanya itu gw tidak setuju jika genre novel ini untuk dewasa. Gw merasa novel ini dapat dinikmati oleh siapa saja bahkan untuk anak-anak sekalipun.
Kelebihan novel ini adalah pesan moral yang disampaikan sangat kuat. Setiap bab dari novel ini memiliki pesan-pesan penting yang dapat dipetik hikmahnya untuk pembaca. Alur maju-mundur-mundur (begitu gw mennyebutnya, hee) dalam novel ini dijamin tidak akan membuat pembaca pusing. Membaca novel ini seperti membaca kumpulan-kumpulan dongeng namun dikemas secara berbeda dan sangat baik (jadi kenapa gw bilang novel ini bisa dibaca oleh siapapun bahkan termasuk oleh anak-anak).

No comments:

Post a Comment

Share It

Translate